Minggu, 23 Oktober 2011

Feminisme

Dalam konteks sejarah, awal mula feminisme berdiri untuk membela kaum perempuan dari ketertindasan serta menuntut penyerataan hak perempuan dan laki-laki dalam segala bidang.Gerakan ini semula lahir sebagai gerakan yang membela kaum perempuan dalam meningkatkan harga diri mereka yang ingin  dinilai sesuai dengan potensinya sebagai manusia tanpa harus memandang gender, namun hal tersebut kemudian mulai disalah artikan, yang semula ingin menaikkan harga diri tapi sebaliknya hanya merendahkan diri mereka.
Tidak sedikit perempuan yang menjadi korban salah kaprah mengenai istilah fiminisme. Ironisnya, Feminisme yang terlahir sebagai cita-cita mulia para perempuan pendahulu yang mereka sebut dengan emansipasi kemudian berubah menjadi kemerosotan harga diri perempuan. Realitas yang ada saat ini di salah satu negara bagian Eropa sebagian besar perempuan merasa bangga dapat menaklukkan 3 sampai beberapa orang lelaki , bahkan hal tersebut dijadikan bahan taruhan bagi mereka, selain itu yang paling menyedihkan virginitas tidak lagi dijadikan sebagai kemuliaan bagi perempuan, namun sebaliknya merreka justru merasa berganti ganti pasangan yang sering dilakukan sebagian laki laki adalah hal yang layak karena ingin menyetarakan segalanya, salah seorang dari mereka menyatakan bahwa virginitas bukanlah suatu ukuran bagi perempuan, sebagian laki laki selalu menuntut keperawanan sedangkan diri mereka bisa saja pelaku seks bebas, maka keperawanan dan keperjakaan seseorang tidak perlu dijadikan perdebatan dalam hubungan. Perempuan dapat melakukan proses sosial yang telah banyak dilakukan oleh kaum lelaki, perempuan dapat merebut kebebasan karena bukan berarti perempuan dinafkahi hidupnya kemudian harus diintimidasi bahkan bergantung hidupnya kepada laki laki yang menafkahinya, perempuan juga dapat mengambil peran dan suara, perempuan juga bisa bebas memilih hidupnya sendiri tetapi bukan berarti dalam hal reproduksi, seks bebas dan sebagainya yang bertentangan dengan norma yang malah hanya menghancurkaan kemuliaan dan harga diri mereka. C.Y Marselina Nope dalam bukunya yang berjudul "jerat kapitalisme atas perempuan" menyatakan "Semangat individualisme yang berkobar kobar dapat menggelincir perempuan ke dalam paradoks, ia akan menggunakan kebebasan dengan sebebas bebasnya hingga tak terasa justru terbelenggu oleh kebebasannya itu; misalnya dengan menghalalkan segala cara untuk meraih kesuksesan meskipun itu termasuk harus mengubah kepribadian dan pandangannya ataupun menyangkal karakter karakter alamiah keluhuran perempuan. Budaya ini kemudian memberi penekanan pada pengejaran kebahagiaan, gaya hidup konsumerisme, kebebasan seksual dan individualisme".

Kerancuan anggapan mengenai “Feminisme” inilah yang perlu dibenahi.Anggapan yang kemudian menggeser tradisi dan budaya timur yang kita banggakan dengan budaya yang baru.
Feminisme sendiri lahir karena adanya budaya patriarki, dimana laki laki adalah segalanya, suara serta gerakan dianggap sah apabila pelakunya adalah kaum laki laki,  perempuan hanyalah kaum lemah yang tidak memiliki potensi, hanya kasur, sumur, dapurlah yang menjadi pekerjaan perempuan dahulu, bahkan perempuan hanya dianggap produk yang menguntungkan bagi laki laki yang hanya bisa mengangguk dan berkata "iya", perempuan tidak memiliki hak bersuara pada saat itu.

Realitas saat ini meskipun istilah "kesetaraan gender" tidak lagi diteriakkan, telah banyak perempuan yang mengambil peran dalam bidang sosial, politik dan ekonomi yang dulunya hanya didominasi oleh kaum laki laki.
Jadi feminisme hari ini sadar atau tidak sebenarnya telah terwujud.

_Nur Ifra Khumaerah_
       23 Okt 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar